Jumlah dan Kualitas Telur "Ayam Bangkok"
Dari hasil hunting babon untuk mulai beternak, setidaknya kini di
kandang Purbaya Farm ada empat babon dengan kualitas B (berdasarkan
harga, diatas rata-rata dan dibawah babon asli import, atau lokal
berkualitas A). Harganya ketika kami beli antara 700-1000, sebelum
ongkos kirim. Untuk babon import berkualitas dan lokal kualitas A
rata-rata diatas 1000 s.d 10.000. Harga permintaan dari peternak
biasanya paling murah 2000/2500. Harga jadinya pasti berkurang. Namun,
harus diingat bahwa harga tidak hanya bergantung pada kualitas,
melainkan juga kelas penjual. Penjual/peternak yang sudah punya nama
"kesohor"/bermain di kelas atas biasanya mematok harga lebih tinggi.
Mungkin mencerminkan kualitas ayam. Namun ada kalanya kualitasnya sama
saja dengan peternak lain yang harganya lebih rendah. Hanya calon
pembeli yang tahu ayam berkualitaslah yang dapat membedakannya.
Sekarang kita bicara tentang telur. Pertama, dari jumlah
telurnya. Dari berbagai referensi yang saya baca, jumlah telur ayam
"bangkok" minimal enam butir, umumnya antara 8-16, dan ada juga yang
mencapai dua puluhan, bahkan lebih. Ayam A (sesuai urutan pembelian)
hanya bertelur (6) enam, sudah dua kali periode bertelur, sesuai dengan
kriteria minimal. Ayam B bertelur (8) delapan buah. Ayam C bertelur (14)
empat belas buah, sesuai keterangan pemilik sebelumnya bahwa telurnya
antara 11-14 buah. Dan ayam D juga bertelur 14 buah. Kualitas telurnya,
semuanya bagus, kulitnya merah artinya lebih tebal dari telur dengan
kulit berwarna putih.
Kedua, rutinitas dalam bertelur. Hal ini mungkin tidak hanya berlaku bagi ayam bangkok karena sifatnya sama saja dengan ayam kampung. Saya sudah memelihara ayam sejak umur 6 tahun, mula-mula disuruh Ibu memberi makan ayam, jadi keterusan bahkan sampe sekarang. Rutinitas ayam dalam bertelur beda-beda. Tipe pertama ada ayam yang bertelur hampir setiap hari dan dalam jam yang sama. Model ayam ini sangat jarang. Umumnya kalaupun setiap hari bertelur, biasanya waktu bertelurnya semakin mundur; misalnya telur pertama jam delapan, telur kedua jam sembilan, ketiga jam sepuluh dst.. Nah sampai telur terakhir biasanya ayam bertelur malam hari sambil ia mulai mengeram. Tipe kedua, ada juga ayam yang bertelur 4/5/6 hari, kemudian hari ke 5/6/7 istirahat sehari. Kemudian mulai lagi dengan siklus yang sama. Model ini dengan asumsi telur esok hari terlambat dengan selisih antara 1-2 jam dari hari ini. Tipe ketiga, ayam bertelur 2/3 hari kemudian hari ke 3/4 istirahat sehari. Kemudian mulai lagi dengan siklus yang sama. Tipe keempat, tipe bertelur "puasa daud", hari ini bertelur besok tidak, lusa bertelur lagi dst. Tipe pertama dan kedua kategori ayam "rajin" yang dalam keadaan normal bisa diduga jumlah tetasan akan lebih banyak. Karena dengan bertelur hampir tanpa jeda, maka kualitas telur ketika dierami masih baik. Sedangkan tipe ketiga dan keempat kemungkinan jumlah tetasan makin sedikit karena jarak telur dengan saat mengerami agak lama, sehingga kualitas telur ketika dierami sudah menurun. Dahulu saya mengira tipe diatas semata-mata kebiasaan, tapi sekarang saya menduga hal tersebut karena nutrisi indukan yang berbeda-beda. Nutrisi tersebut mempengaruhi masa produksi telur masing-masing indukan. Jadi kriteria kedua akan berhubungan dengan kriteria ketiga di bawah ini.
Ketiga, dari jumlah tetasannya. Ayam A, sudah dua periode
pengeraman menetas dua ekor saja. Ayam B, pada periode pengeraman
pertama hanya menetas tiga ekor. Ayam C, sesuai keterangan pemilik
sebelumnya, jumlah tetasannya antara 9-10 ekor. Sedangkan ayam D,
pengeraman pertama di kandang Purbaya menetas sembilan ekor.
Jumlah tetasan, dipengaruhi oleh berbagai hal. Bisa dipengaruhi oleh
induknya. Misalnya karena bulu-bulunya sedikit sehingga panasnya tidak
stabil. Sehingga telur kurang panas atau terlalu panas. Atau kualitas
telur, yang pada dasarnya juga dipengaruhi induknya. Misalnya kekurangan
kalsium. Kekurangan kalsium menyebabkan pelbagai penurunan kualitas
telur, seperti kulitnya jadi tipis atau sangat tipis sehingga bentuknya
tidak lagi bulat. Atau telur sangat kecil, seperti telur dara/merpati.
Atau bahkan induk menjadi tidak bertelur sama sekali.
Kekurangan kalsium disebabkan oleh asupan gizi yang kurang. Misalnya
gizi makanan tidak terpenuhi, sementara ayam karena keterbatasan lahan
hanya dikurung saja dalam kandang. Di sisi lain, ayam "dipaksa"
berproduksi terus-menerus tanpa jeda, atau diberi kesempatan
"mengasuh"-ngiring anaknya. Hal inilah yang kemudian menjadi sebab ayam
stres dan tidak lagi bertelur. Untuk mengatasi hal-hal tersebut biasanya
peternak ada yang tidak langsung "menyapih" anaknya begitu menetas,
melainkan membiarkan induknya mengasuh anaknya dalam kandang umbaran.
Sering-seringlah mengumbar ayam di kandang yang luas, agar terpenuhi
kecukupan gizinya, atau memberi makanan mineral (B-12) dan Kalsium
(kalk) yang dapat diperoleh di toko. Atau berikan gritt (cangkang
kerang) yang mungkin juga dijual di pasar.


